kami hadir untuk pelajar / siswa yang ingin menjadi muslim sejati yang ingin belajar islam dan menjadi pelajar berprestasi dan mengemban dakwah remaja

Lulus?

Matahari bersinar terang pagi ini. Tidak ada tanda-tanda awan yang bakan menumpahkan air hujan di hari ini. Jalanan pun tampak lengang. Tak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Mungkin karena hari libur dadakan.

Namun kondisi sebaliknya terjadi di depan sebuah sekolah menengah atas. Banyak siswa yang berjingkrak-jingkrak merayakan keberhasilannya lulus ujian nasional.

Atas dasar suka sama suka satu persatu pasang baju mulai berganti warna. Warna putih abu-abu sekarang tambah ceria dengan warna merah, kuning, hijau. Kayak lampu di perempatan jalan.

Karena kelulusan pula, beberapa siswi rela menggunting rok yang selama ini menutupi auratnya dan menjadikan kerudung yang biasa terpasang erat dan rapat di kepala menjadi kain pel yang dapat dibuang kemanapun.

Namun, rupanya remaja-remaja ini masih punya kepedulian tinggi. Buktinya mereka masih memperhatikan nasib pedagang yang satu ini. Siapa dia? Dia adalah penjual K.O.N.D.O.M. Yups.

Yah, itulah kondisi negara ini di hari ini. Penuh warna dan cerita. Ada yang miris dan ada yang gak peduli. Namun itulah realita. Cerita yang berulang di hampir sepanjang sejarah bangsa Indonesia. Terlebih sepanjang sejarah Ujian Nasional.

Sejak dahulu kala UAN ada, selalu menimbulkan cerita yang serupa. Yang tidak lulus nangis dan pingsan, yang lulus berpesta pora.  Seolah UAN adalah segala-galanya. Lulus surga, gagal neraka.

Padahal dunia tidak seperti itu. Kelulusan dalam UAN buka berarti apa-apa. Apalagi kalo dalam UAN dibumbui dengan contek menyontek dan curang mencurangi.

Dunia juga gak memerlukan orang yang hanya punya nilai UAN bagus. Apalagi yang sekedar lulus. Yang dibutuhkan dunia adalah orang-orang yang memiliki sikap mental bagus dan memiliki kemampuan bagus dibidangnya masing-masing.

Nah inilah yang harusnya diingat oleh para pelajar dimanapun berada. Ujian yang beneran tu adanya di masyarakat. Bukannya UAN. Karena kalo kita gagal di UAN, maka kita bisa aja mengulang tahun depan. Beda dengan ujian di masyarakat. Kalo kita gagal dan memalukan, maka resikonya ya harus out dari masyarakat itu. Paling baik sih kalo dapet kesempatan lagi, tapi biasanya lamaa banget.

So, sobat pelajar semua. Jangan terlena dengan UAN aja. Ujian yang sebenarnya masih menanti di depan anda. Dan keberhasilan yang hakiki baru ditentukan di ujian yang ada di depan nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: