kami hadir untuk pelajar / siswa yang ingin menjadi muslim sejati yang ingin belajar islam dan menjadi pelajar berprestasi dan mengemban dakwah remaja

Kata prestasi mungkin udah tidak asing lagi di telinga Greensoulid semua. Kalau disuruh menunjukkan contoh prestasi pastinya kita gak sulit untuk menunjuk teman sekelas yang menduduki peringkat kelas pertama. Atau tak sulit untuk menunjuk seorang teman yang menjuarai kejuaraan olahraga.

Prestasi tentu adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi yang mendapatkannya. Apalagi saat kita masih berseragam khas sekolah Indonesia. Pastinya kita semua pingin jadi pelajar yang berprestasi. Tapi nih sebelum kita ngobrolin maslah prestasi lebih jauh, kita bahas dulu apa sih yang namanya prestasi itu?  Prestasi seringkali kita artikan sesuatu yang akhirnya mendapat penghargaan. Entah itu berupa piala, hadiah, medali atau apapun bentuknya. Atau prestasi bisa diartikan sebagai sesuatu yang menghasilkan gelar, entah itu manusia paling kuat, paling cerdas, ataupun paling ganteng or cantik, misalnya.

Kalau dalam dunia putih merah sampai putih abu-abu, prestasi dibedakan jadi 2 tipe. Ada yang akademik ada juga yang non-akademik. Prestasi akademik adalah prestasi yang ada hubungannya dengan pelajaran. Teman kita yang nilainya dapat 90 dikatakan memiliki prestasi pada pelajaran itu, sedang yang dapat 30 tidak berprestasi. Gampangnya begitu. Kalau non-akademik itu selalu dikaitkan dengan olahraga dan ekstrakulikuler lainnya.

Memang definisi prestasi kayak gitu gak salah. Cuman kurang aja. Nilai 90 dan tumpukan medali belum menjamin seseorang dikatakan berprestasi. Bahkan seseorang dengan nilai 30 dalam pelajaran bisa dikatakan berprestasi. Nah kalo gitu apa ukuran dari berprestasi ?

Manusia diciptakan oleh Allah berbeda-beda. Antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya berbeda wajahnya, berbeda sidik jarinya, berbeda warna kulitnya, dan masih banyak lagi yang bisa digunakan untuk membedakan seseorang dengan orang lainnya. Bahkan anak kembar identik juga punya perbedaan.

Selain berbeda secara fisik, manusia juga diberi perbedaan kemampuan. Nah dari sinilah muncul istilah kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan adalah Sesuatu yang unik yang ada pada seorang manusia. Setiap manusia pasti memiliki suatu bakat atau anugrah yang tidak dimiliki oleh orang lain dan di sisi yang lain ada juga sesuatu hal yang dia tidak miliki. Jadi gak ada manusia tanpa kelebihan maupun manusia tanpa kekurangan.

Nah, prestasi ada hubungannya dengan kelebihan dan kekurangan tiap manusia ini. Prestasi seseorang bisa didapat hanya bila seseorang itu mampu mengasah kelebihannya dan mengatasi kelemahannya.

Nah inilah yang disebut prestasi. Maka wajar bila siswa yang memiliki keterbelakangan mental ketika mendapat nilai 50 atau 30 pada ujian siswa normal disebut berprestasi. Begitu pula dengan rekan kita yang bertubuh tambun. Ketika dia bisa mencapai waktu 30 detik ketika lari 100 meter itu adalah prestasi bagi dia.

Sebaliknya orang yang punya potensi mendapat nilai 100, tetapi dia hanya mendapat nilai 90 dikatakan tidak berprestasi. Meskipun nilai itu tertinggi dari teman-temannya.

Jadi itu yang dinamakan prestasi. Prestasi bukan diukur dari ada tidaknya piala atau besar kecilnya hadiah. Prestasi memang berhubungan dengan sebuah imbalan. Namun imbalan ini gak selalu berupa piala, medali atau uang tunai. Imbalan ini dapat berupa senyum, pujian, atau apapun yang membuat bahagia.

Prestasi seseorang berbeda dengan prestasi orang lain. So pastilah. Karena kelebihan dan kekurangan itu berbeda setiap orang, maka prestasinya juga berbeda. Bagi Beethoven, menghasilkan komposisi music ketika ketulian menghampiri adalah prestasi besar baginya. Berbeda dengan seorang Stephen Hawkins. Bagi Hawkins, menciptakan lagu bukanlah prestasi, tapi baginya prestasi adalah mencipakan teori ilmiah ketika lebih dari separuh anggota tubuhnya lumpuh. Bagi kita lulus ujian nasional bukanlah prestasi yang bisa dibanggakan, namun bagi teman-teman kita yang cacat mental, lulus ujian nasional adalah prestasi tersendiri.

Nah sekarang gimana caranya kita bisa memaksimalkan potensi kita. Yang pertama, tentunya kita harus memahami diri kita dulu. Ya gak mungkinlah kita mau memaksimalkan kelebihan kita, tapi kita gak tau kelebihan apa yang kita punya.

Mumpung masih muda dan punya banyak waktu, harus segara dicari kelebihan yang kita miliki. Jangan lupa cari juga kelemahan kita. Sebenarnya kita udah sangat beruntung sekali. Coba aja kita si Beethoven dan Hawkins. Mereka berdua punya kekurangan yang besar. Bayangin aja seorang pencipta lagu mendapat penyakit tuli. Gimana juga seorang pemikir kehilangan hamper semua organ tubuhnya. Tapi mereka mampu mengalahkan segala kekurangan itu dan akhirnya menorehkan prestasi tersendiri.

Nah kunci sukses mereka tak lain dan tak bukan adalah tujuan hidup. Dengan tujuan ini mereka gak pernah menyerah dalam hidup. Coba aja kalo kita yang tiba-tiba dapet penyakit yang melumpuhkan tubuh kita. Pasti rasanya kita pingin bunuh diri. Ini tanda kalo kita gak punya tujuan hidup.

Dengan tujuan hidup yang jelas dan pasti kita akan mampu melangkah menuju impian kita. Meskipun awalnya Cuma selangkah, tapi ketika kita mampu mengalahkan semua halangan kita akan berjalan lebih cepat dan lebih cepat menuju tujuan kita.

Tanpa tujuan yang jelas, tentu kita gak bisa mempersiapkan apa yang terjadi di depan. Bayangkan aja kita sekarang sedang persiapan untuk berpergian ke tempat nun jauh di sana. Kalau kita punya tujuan kemana kita pergi, maka kita dapt mempersiapkan segala kebutuhan dengan maksimal. Kita tahu berapa  hari kita disana, cara berpergian kesana, uang yang dibutuhkan, dan lain sebagainya. Ketika kita sudah mempersiapkan semuanya kita dapat berpergian dengan cepat. Lain halnya ketika kita gak ada tujuan kemana kita akan berpergian. Maka persiapan kita akan seenaknya sendiri. Dan akibatnya kita akan lama dalam mempersiapkan bekal yang cukup. So, segera tetapkan tujuan hidupmu dari sekarang.

Yang terakhir adalah tetap focus dan pantang menyerah. Dalam perjuangan mencapai prestasi tidak sedikit halangan dan rintangan yang menghadang. Mulai level cacian dan hinaan dari orang-orang disekitar kita, sampai masalah-masalah lain yang berat. Tapi itu memang harga yang harus dibayar untuk menjadi pelajar berprestasi.

Allah juga gak akan semudah itu memberi prestasi kepada hambanya. Coba aja kita lihat orang yang mengirim barang berharga mudah pecah ke orang lain. Tentu barang itu akan dibungkus dengan rapat dan berlapis. Mulai dari diberi spons, kemudian diberi gabus, kemudian dibungkus plastic, kemudian dimasukkan kardus, belum lagi diberi gembok untuk pengamanannya. Ketika barang itu sampai ke tujuan si penerima harus membuka bungkusan itu satu persatu. Mulai dari gembok, kardus, plastic, kemudian gabus dan spons, baru dia dapat mengambil barang berharga itu.

Nah begitu pula dengan prestasi kita. Prestasi selalu dibungkus dengan berbagai ujian dan rintangan. Semakin besar prestasi yang diberikan oleh Allah, maka semakin besar dan semakin banyak ujian dan rintangannya. Seandainya kita menyerah maka kita gak akan mendapat apa-apa. Seperti ketika orang yang mendapat paket itu menyerah dalam membuka paket itu. Dan hasilnya sama ketika dia menyerah untuk membuka gembok dengan menyerah ketika membuka spons. Meskipun ketika membuka spons adalah langkah terakhir, tetapi kita menyerah di langkah terakhir, maka kita gak akan dapat apa-apa. So, jangan menyerah dalam mencapai tujuan hidupmu.

Nah itulah pelajar berprestasi. Pelajar berprestasi yang masih biasa. Untuk menjadi pelajar berprestasi yang luar biasa masih ada yang harus kita lakukan. Yaitu berprestasi dalam bidang agama. Nah ini baru prestasi yang sesungguhnya. Dan inilah prestasi yang paling penting.

Ya iyalah, nanti di akhirat kita gak bakal ditanya berapa jumlah piala di rumah. Gak bakal pula kita ditanya berapa kejuaraan yang kita menangkan. Tapi yang ditanya adalah berapa emas yang kita rebut dalam olimpiade dunia ini. Nah tentunya berprestasi di agama sama juga dengan berprestasi pada bidang lain. Kita harus tahu kemampuan diri kita, punya tujuan, dan tetap focus.

Dan jangan jadikan agama sebagai salah satu cabang saja. Sekarang agama Cuma menjadi salah satu bagian mata pelajaran atau ekskul aja. Makanya gak heran kalo SKI or BDI menjadi ekskul. Padahal agama adalah batang kehidupan kita. Kita harus berprestasi dalam agama baru bisa berprestasi yang lainnya. Bukan kalo berprestasi di agama ya urusannya yang aktif di BDI or SKI aja.

Nah, inilah prestasi yang sesungguhnya. Prestasi yang bisa disamakan dengan prestasi ilmuwan-ilmuwan islam jaman dulu. Mereka adalah ilmuwan yang lebih hebat dari ilmuwan manapun yang lahir di eropa saat ini. Karena selain mereka pintar dalam sebuah bidang ilmu, mereka juga ahli dalam agama dan memiliki hidup yang lebih baik dari ilmuwan sekarang.

Comments on: "Pelajar Berprestasi : Gue Banget" (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: