kami hadir untuk pelajar / siswa yang ingin menjadi muslim sejati yang ingin belajar islam dan menjadi pelajar berprestasi dan mengemban dakwah remaja

Belum hilang rasa kaget kita akibat munculnya kasus mbok minah. Sekarang muncul lagi kasus yang sama aneh dan sama mengenaskannya. Di Surabaya muncul kasus aneh yang melibatkan seorang bocah usia Sekolah Dasar. Cuma gara-gara bercanda dengan seekor tawon dengan temannya, si tawon-boy ini ( begitu dia sekarang dipanggil ) terpaksa harus berurusan dengan jaksa dan hakim. Belum cukup dengan itu, muncul lagi kasus serupa, tapi yang jadi mainan adalah sebuah kaleng.

Kalo kita coba tengok kondisi masyarakat Indonesia secara luas, kondisi nya jauh dari normal. Tawuran menjadi sesuatu yang wajar dilakukan baik itu orang dewasa, kakek-kakek, bahkan ibu-ibu dan anak-anak. Padahal seringkali pemicu masalahnya bukan sesuatu yang besar dan rumit kayak kasus century. Masalah kecil kayak cemburu, kesenggol, bahkan diliatin biasa aja sudah bisa memicu baku hantam. Apalagi kalo udah bicara masalah bola. Tawuran sudah menjadi hal yang wajib hukumnya.

Padahal konon katanya negeri Indonesia terkenal akan keramahan para penduduknya. Kalo negeri yang ramah aja kondisinya udah kayak gini gimana coba negeri yang gak ramah.

Sekarang coba kita menyelidiki dan menelusuri kejadian-kejadian lucu nan memalukan diatas. Kalo para pembaca sekalian tentunya gak akan melakukan hal-hal seperti membawa anak kecil ke pengadilan atau bahkan tawuran. So pastilah, pembaca sekalian kan imut-imut dan baik-baik. Semua masalah diatas pastinya akan kita selesaikan dengan suatu kata ajaib yang berbunyi maaf.

Yups, kata maaf adalah kata ajaib untuk menyelesaikan berbagai masalah dengan orang lain. Bagi saya dan pembaca semua. Tapi rasanya kata maaf sudah hilang dari Kamus Besar Bahasa Indonesia bagi sebagian besar penduduk negeriku Indonesia. Kata maaf seolah hanya barmakna ketika lebaran saja. Bahkan mungkin kata maaf hanya bermakna menunda permusuhan. Habis lebaran baru musuhan lagi. Nah lho. Gawat bukan.

Padahal maaf memaafkan adalah salah satu ciri seorang muslim. Banyak sekali seruan-seruan dari nabi kita untuk memberi maaf dan meminta maaf. Tapi yang namanya meminta maaf maupun memaafkan bukan suatu hal yang mudah. Untuk bisa memaafkan kita harus bisa mengontrol habis semua ego kita. Padahal untuk mengontrol ego, kita selalu kebentur dengan harga diri lah, malu lah, pokoknya aja ada yang buat kita gak mau minta maaf.

Nah biar kita bisa mengatur ego kita banyak hal yang bisa kita lakukan. Yang pertama adalah perbanyak berwudhu. Yang namanya wuhdu bukan untuk menyegarkan badan aja. Bahkan wudhu dapat menyegarkan hati kita. Emang kayaknya gak nyambung gitu, tapi kalo kita berwudhu maka setan-setan yang bersemayam dalam diri kita bisa minggat. Dan yang namanya setan itu sebab dari kemarahan dan ego kita.

Yang kedua adalah perbanyak puasa. Dengan puasa yang benar maka kita belajar mengontrol emosi kita.Ya syaratnya puasa kita adalah puasa yang beneran, bukan puasa yang sia-sia.

Kemudian adalah selalu tanamkan bahwa kita itu hanya manusia biasa. Ini yang sering kita lupa. Kita selalu merasa bahwa kita selalu benar. Padahal kejadian apapun yang menimpa kita, pastinya kita punya andil. Coba aja ketika ada yang menghina atau menejek kita. Pastinya kita merasa gak terima dan kalo ditanyakan siapa yang salah pasti kita langsung nunjuk orang yang menghina kita. Tapi coba kita liat dulu. Orang yang menghina kita tentunya tidak akan menghina tanpa sebab. Dia menghina tu pasti ada sesuatu dalam diri kita yang tidak disukai. Nah disitulah salah kita. So kalo kita dihina or diejek kita ikut nimbrung salah di situ.

Yang terakhir adalah memilih lingkungan yang baik. Lingkungan mempengaruhi perkembangan kita. Kalau kita banyak bergaul dengan orang-orang yang gampang emosi, maka kita akan ketularan. Lingkungan juga akan membentuk ego kita. Kalau ego kita udah tinggi, ya gawat deh. Kata maaf seakan sulit keluar dari mulut kita. Coba aja kita liat kumpulan suporter. Kalo satu aja udah emosi dan mulai ngelempar botol, maka yang lain pastinya akan ikut-ikutan. Nah makanya pilih teman yang gak gampang emosi dan bisa menenamngkan diri kita dikala kita lagi muarah banget.

Itu semua adalah resep tradisional yang udah dipraktekkan di bumi Indonesia ini. Dan karena inilah Indonesia bisa terkenal karena keramahannya. Hmm sekarang tinggal terserah kita. Akankah kita mau mempertahankan rekor sebagai negeri yang ramah ataukah kita membuat rekor baru sebagai negeri yang berubah dari ramah menjadi ‘ramah’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: