kami hadir untuk pelajar / siswa yang ingin menjadi muslim sejati yang ingin belajar islam dan menjadi pelajar berprestasi dan mengemban dakwah remaja

Gerbang Harapan

Saat kaki melangkah melewati gerbang sekolah, terbentang sejumlah harapan. Terbayang, bagaimana berangkat sekolah setiap pagi dengan dilepas tatapan penuh kebanggaan ortu, seolah mengucapkan “Selamat meraih cita-cita”. Sampai di sekolah bisa bertemu dan bergaul dengan kawan-kawan “senasib”. Senasib dalam kesibukan, dalam tawa dan canda, dalam duka dan sama-sama suntuk, dalam meraih cita-cita, dan (terkadang) saling jitak-menjitak. Tentu suatu pengalaman yang tidak bisa dihargai dengan hanya sejumlah dolar apalagi rupiah.

Masa depan sudah semakin transparan, begitu kata kita dalam hati. Jika kebetulan anda sekarang masuk SMA, sudah tergambar bagaimana tiga tahun lagi udah kuliah. Empat tahun setelah itu udah sarjana (kecuali yang saying ama kampus sampe 7 tahun bahkan ada juga yang terpaksa ‘dideportasi’ lho), dan bentar lagi bisa kerja di perusahaan bonafide. Gaji gedhe, bisa ngredit mobil, punya rumah sendiri, istri dan …. seterusnya.

Bercita-cita memang hak setiap orang. Siapapun boleh mengharapkan masa depannya, dan nggak ada yang ngelapor ke polisi lantas ditilang ato didenda. Tentu sah-sah saja kalo kamu ingin jadi seperti Bill Gates yang dengan kecerdasannya bisa ‘menguasai’ dunia dengan perusahaan Microsoft-nya. Nggak ada yang ngelarang kalo ada yang ingin seperti Luna Maya yang dengan kecantikannya bisa memikat jutaan mata yang memandangnya. Ato yang hobi bola sah-sah saja kalo ingin seperti Cristiano Ronaldo yang menjadi pemain termahal di dunia saat ini.

Hanya, kenyataan adalah kenyataan. Kalau fakta sesuai dengan harapan, ya alhamdulillah. Kalo enggak sesuai dengan cita-cita, ya nggak usah murung apalagi sampek bunuh diri segala. Itu namanya pribadi yang rapuh. Rasullullah SAW mencontohkan betapa orang mukmin itu mengagumkan dalam menghadapai realita.

“Mengagumkan seorang mukmin itu. Karena sesungguhnya semua urusannya menjadi baik baginya. Hal itu tidak terdapat pada seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika dia mendapat keberuntungan, ia bersyukur. Maka  itu baik baginya. Dan jika ditimpa kesulitan, ia bersabar. Maka itu pun baik baginya”. ( HR Muslim dari Suhaib Ar Rumy r.a. )

Allah SWT mengharapkan hambanya memiliki cita-cita yang agung. Ingin kaya,ingin berkuasa, ingin punya pacar oke, itu semua bukan cita-cita yang agung. Terkesan ‘pasaran’ dan tidak eksklusif. Kenapa nggak eksklusif ? Karena semua orang bisa bercita-cita seperti itu, dan tidak memerlukan otak yang brilian untuk bisa bercita-cita seperti itu. Lagi pula cita-cita duniawi seperti harta, kekuasaan, terkenal, cinta manusia, dan sebagainya itu bersifat terbatas oleh waktu dan jumlah. Mungkin sekarang kamu ngeliat Luna Maya buat yang laki atau Teuku Wisnu buat yang perempuan itu pada kembang kempis deh idungnya. Tapi pernahkah kita membayangkan bagaimana penampilan mereka 40 tahun mendatangyang udah keriput, jalannya membungkuk, cerewet khas nenek-nenek, sedikit pikun, dan seabrek ciri-ciri manula lainnya menempel pada idola kita. Itu jika masih hidup. Kalo udah mati lebih mengerikan lagi, soalnya udah tinggal tulang persis tokoh-tokoh dalam cerita-cerita setan yang sekarang lagi ngetren di bioskop.

“Bukanlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian yang dapat mendekatkan diri kalian kepada Kami, tetapi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Merekalah orang yang mendapatkan pahala yang berlipat ganda karena apa yang mereka kerjakan. Dan mereka akan berada di tempat-tempat yang tinggi dalam keadaan aman” ( QS Saba: 37 )

Tapi kalo seperti cita-citanya Mush’ab bin Umair, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi dan sebagainya tidak semua orang bisa. Bahkan sekedar bercita-citapun sulit, apalagi mewujudkannya. Mereka bukan hanya sekedar ingin kaya walaupan kekayaan mungkin ada. Mereka juga bukan ingin jadi yang terkenal meski kemudian hampir setiap kaum muslimin mengenalnya. Yang mereka cari hanyalah jika Allah SWT dan Rasul-Nya ridho pada mereka. Itulah sehingga mereka menggunakan kekayaannya, kecerdasannya, kekuasaanya dan semua potensinya untuk membela agama Allah. Hal ini tentu selaras dengan firman Allah SWT :

“Wahai orang-orang yang beriman, amukah kamu aku tunjukkan perniagaan yang bisa menghindarkan adzab yang pedih. Yaitu beriman kepada Allah dan Rosul, dan berjihad di jalan Allah dengan hartamu dan jiwamu.” (QS As Shoff: 10-11)

“Dan kejarlah apa-apa yang didatangkan Allah kepadamu berupa negeri akhirat, dan janganlah kamu lalaikan bagianmu dari dunia.” (QS Al Qashosh: 77)

Maka, kalo kemudian kita sekarang sudah mendapat predikat pelajar, yang merupakan cikal bakal dari terwujudnya cita-cita lantas mau kita “apakan” predikat itu ? Untuk sekedar cari kerja dan kemudian mendatangkan uang sebanyak-banyaknya, habis itu lupa dengan pemberi prestasi dan rizqi, yaitu Allah SWT ?

Tentu tidak.Kalo kita sekolah dan berprestasi dan kemudian mendatangkan uang banyak, itu sudah jelas. Begitulah ‘nasib’ orang berprestasi. Tapi saat kita berprestasi, kemudian kita persembahkan prestasi kita untuk agama sebagaimana yang dilakukan oleh Slaman Al Farisi, Umar bin Abdul Aziz, Abu Bakar As Shiddiq dan lainnya itu yang belum tentu kita berani.

Bill Gates emang kaya dan terkenal. Abramovic malah punya klub sepak bola terkenal. PeterPan pun dipuja dimana-mana. Tapi sampai kapan dia bisa menikmati kekayaan dan pujian pada dirinya? Bisakah apa yang dinikmatinya itu bisa menolongnya kelak di hari pembalasan yang pasti akan terjadi ? Padahal Allah SWT berfirman :

“Suatu hari. Dimana tidak berguna lagi harta dan tidak pula anak-anak. Kecuali yang datang dengan hati yang bersih” ( QS Asy Syu’ara : 88-89 )

Seperti apa gambaran hati yang bersih itu ? Yaitu hati yang selalu cenderung kepada kebenaran Islam. Hati yang cinta pada Islam dan benci pada kekufuran. Hati yang selalu menjaga segala aktifitasnya dengan standar syariat Allah. Hati yang tak mau menyeleweng dari hukum-hukum-Nya.

Sudahkah hati kita bersih ? Atau, sudahkah kita berusaha untuk membersihkannya ? Tentu yang bisa menjawab hanya kita masing-masing.

Wallahu A’lam (mha)

Kiass Edisi 20 1-15 Agustus 2001 dengan perubahan

Comments on: "Gerbang Harapan" (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: